My Adsense

KENAPA REGGAE DAN RASTA DIIDENTIFIKASI DENGAN GANJA...???

Hhhuuuffff...!!! Akhirnya kesampean juga... Udah dari dulu aku pengen nulis artikel, makalah, opini ato apalah (istilah-istilah lain yang biasa dipake sama orang-orang yang pernah makan bangku sekolahan... Emangnya rayap makan bangku...??? He... He... He...) kalo rasta dan reggae itu nggak harus baganjo. Tapi karena kesulitan nyari referensi dan academic drafting yang valid, jadi tulisan ini referensinya make beberapa situs internet.

Oke, sekarang kita mulai pembedahannya. Operasi kali: dibedah...!!!

Kalo kita mau ngebuktiin rasta dan reggae itu nggak ada hubungannya sama ganja, kita harus tau dulu defini dan sejarah dari kedua istilah itu. Siap...??? Oke, mari kita came on...

Apa Sih Definisi Reggae...???

Reggae itu adalah suatu aliran musik yang awalnya dikembangkan di Jamaika pada akhir era 60-an. Walo kerap dipergunakan secara luas untuk menyebut hampir segala jenis musik Jamaika, istilah reggae lebih tepatnya merujuk sama gaya musik khusus yang muncul ngikutin perkembangan ska sama rocksteady.

Kata “reggae” itu sebenernya diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae itu sendiri terkontaminasi (kayak bahan kimia aja: terkontaminasi. He... He...) elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) sama musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya sama irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae itu adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat sama pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara ngocok gitar secara terbalik (up-strokes). Kayak adonan aja ya, dikocok. Selain itu, juga cara mereka memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.

Reggae itu berbasis sama gaya ritmis yang bercirikan aksen pada off-beat ato sinkopasi, yang dikenal juga dengan istilah skank.

Pada umumnya reggae memiliki tempo lebih lambat dibandingin ska atopun rocksteady. Biasanya dalam reggae terdapat aksentuasi di ketukan kedua dan keempat pada setiap bar, dengan gitar rhythm juga memberi penekanan pada ketukan ketiga; ato nahan kord di ketukan kedua sampe ketukan keempat dimainkan. Utamanya "ketukan ketiga" itu, selain tempo dan permainan bassnya yang kompleks yang ngebedain reggae sama rocksteady, meskipun rocksteady maduin pembaruan-pembaruan itu secara terpisah.

Udah segitu aja dulu... Entar kita bahas lagi di Sejarah Reggae.

Sejarah Reggae

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya di tahun itu nggak ada kejadian khusus yang jadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang tepat sama kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Jamaika pada saat itu yang sedang penuh tekanan.

Akar musikal reggae sendiri berhubungan erat sama tanah yang ngelahirin musik reggae itu: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15 (inget kan pelajaran sejarah waktu SMP dulu?), Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang artinya “pulau hutan dan air”.

Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak itu dipekerjakan di industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikutin juga sama melesunya perdagangan gula dunia.

Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan mereka sama tanah kelahirannya dengan mempertahankan tradisi. Mereka nyeritaian kehidupan di Afrika melalui nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun ninggalin bekas produk silang budaya yang akhirnya jadi tradisi folk asli Jamaika. Kalo komunitas kulit hitam di Amrik ato Eropa dengan begitu cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya, bro, komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur. Yang ini nih yang patut kita tiru: nasionalisme yang tinggi.

Sejarah gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian berhubungan erat sama keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20.

Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang ngeluarin gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan gerakan pemulangan kembali (ato bahasa kerennya itu repatriasi) masyarakat kulit hitam di luar Afrika.

Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru buat kaum kulit hitam.

Pada tahun 1916-1922, Garvey ninggalin Jamaika buat ngebangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA punya lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey balik lagi ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatin sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para pengikut ajaran Garvey nganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu. Mereka juga ngeyakinin Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud sebagai religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai sosok yang di-tuhan-kan.

Pada bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang ngelibatin kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan nyediain tanah di Ethiopia Selatan buat repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga nekanin perlunya Rasta untuk ngebabasin Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan ngejadiin Rastafari sebagai jalan hidup (ato kalo orang Britania bilang: way of life), sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.

Tahun-tahun setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan ngilangin segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!

Sejarah Rasta

Rasta, ato Gerakan Rastafari ato Rastafari Movement, adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari buat Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatin sebagai kaisar. Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus Garvey (masih inget. Kan?), yang visi politik dan budayanya ikut nolongin nyiptain suatu pandangan dunia yang baru. Gerakan ini kadang-kadang disebut "Rastafarianisme"; tapi istilah ini dianggap nggak pantes dan nyinggung perasaan banyak kaum Rasta.

Gerakan Rastafari udah menyebar di berbagai tempat di dunia, terutama melalui imigrasi dan minatnya dilahirkan oleh musik Nyahbinghi dan reggae —khususnya musik Bob Marley, yang dibaptiskan dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal, sebuah langkah yang juga diambil belakangan oleh jandanya, Rita.

Pada tahun 2000, ada lebih dari satu juta Rastafari di seluruh dunia. Sekitar 5-10% dari penduduk Jamaika mengidentifikasikan dirinya sebagai Rastafari. Kebanyakan kaum Rastafari vegetarian atau hanya memakan jenis-jenis daging tertentu. Di AS ada banyak sekali restoran vegetarian Hindia Barat, yang nyediain makanan Jamaika.

Doktrin

Rastafari berkembang di antara penduduk yang sangat miskin, yang ngerasa kalo masyarakat nggak bakalan nolongin mereka kecuali ngebikin mereka jadi lebih menderita. Kaum Rasta memandang diri mereka sebagai penggenap suatu visi tentang gimana orang Afrika harus hidup. Mereka ngerebut kembali apa yang mereka anggap sebagai kebudayaan yang telah dicuri dari mereka ketika dibawa di kapal-kapal budak ke Jamaika, tempat lahirnya gerakan ini.

Doktrin Rastafari beda banget sama norma-norma pikiran dunia barat modern. Hal ini disengaja sama kaum Rasta sendiri. Beda sama kebanyakan kelompok keagamaan modern dan Kristen yang cenderung nekankin konformitas dengan "kekuasaan yang ada", Rastafari sebaliknya nekanin kesetiaan sama konsep mereka tentang "Sion" dan penolakan masyarakat modern ("Babel"). "Babel" dalam hal ini dianggap ngeberontak terhadap "Penguasa Dunia Sejati" (YAH) sejak zaman Nimrod.

"Cara hidup ini" tidak sekadar dikasih makna intelektual, atau "keyakinan" seperti yang biasa diistilahkan. Ini adalah masalah mengetahui atau menemukan identitas sejati diri sendiri. Ngikutin dan nyembah YAH Rastafari berarti nemuin, nyebarin dan "nempuh" jalan di mana orang telah dilahirin dengan sebenarnya.

Agama ini sulit dikategorikan, karena Rastafari bukan suatu organisasi yang tersentralisasi. Masing-masing Rastafari mencari kebenaran untuk dirinya sendiri, sehingga akibatnya terdapat berbagai keyakinan yang masuk ke bawah payung besar bernama Rastafari.

Yang perlu ditekanin disini adalah rastafari merupakan suatu ajaran hidup bukan suatu agama. PBB uga udah ngakuin keberadaan ajaran ini. Ajaran ini sebenarnya mengajarin seseorang untuk hidup bersih, tidak meminum alkohol dan nggak ngerokok. Tapi kebanyakan orang salah kaprah sama Reggae. Banyak yang nganggap kalo reggae selalu identik sama rasta yang juga diartiin banyak orang dengan ngisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan. Reggae adalah sebuah genre musik yang dipelopori oleh Bob Marley. Dan tentunya disini, seorang pecinta reggae tidak selalu berpenampilan kayak Bob Marley ato menganut rasta. Sebaliknya, belum tentu penganut rasta menyukai reggae. Hal inilah yang harus dipahami oleh semua kalangan agar “melek” terhadap musik berirama santai ini.

“Terus sekarang masalahnya, mengapa saya memakai embel-embel rastafara? Embel-embel ini tentunya bukan berarti saya juga penganut rastafarian. Saya sebenarnya terinspirasi dari musisi reggae tanah air.” Tutur Yanuar Catur Rastafara. Bang Tony Q Rastafara yang juga mencantumkan rastafara pada nama belakangnya. “Rastafara yang saya ambil disini adalah filosofinya, yaitu rasa senang dan cinta terhadap perdamaian. Cinta kepada alam, cinta pada anak kecil, cinta wanita, dan segala sesuatu yang beratasnamakan cinta. Saya juga bukan pengisap ganja ataupun berambut gimbal, tetapi saya sangat cinta akan irama lantunan musik reggae beserta lirik-liriknya. Seorang pengagum reggae belum tentu dreadlock rasta atau identik dengan rambut gimbal dan ganja, jadi salah bila orang yang beranggapan sebaliknya. Saya suka dan cinta kepada musik reggae karena musik ini selalu membawa hati saya kedalam goa perdamaian. Mungkin, jika semua orang menyukai musik reggae, tentunya tak akan ada perang yang tak kunjung henti.” One love, one heart.. Woyyyooooo Man.. Alright.

Afrosentrisme Rasta dan Merah Kuning Ijo

Secara sosial, Rastafari adalah suatu tanggapan terhadap penyangkalan rasialis terhadap orang-orang kulit hitam sebagaimana yang dialami di Jamaika, pada tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada di tingkat tatanan sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih dan agama mereka (umumnya Kristen) berada di paling atas. Anjuran Marcus Garvey agar orang-orang kulit hitam bangga akan diri mereka dan warnisan mereka mengilhami kaum Rasta buat meluk apa aja yang bersifat Afrika. Mereka ngajarin kalo mereka dicuci otak saat berada dalam tawanan buat nyangkal segala sesuatu yang berkaitan sama kulit hitam dan Afrika. Mereka ngebalik citra rasialis mereka dan nganggap primitif dan langsung dari hutan dan malah merangkulnya -- meskipun itu berlawanan -- dan menjadikan konsep-konsep ini sebagai bagian dari budaya Afrika yang mereka anggap telah dicuri dari mereka ketika mereka dibawa dari Afrika di kapal-kapal budak. Dekat dengan alam dan dengan savana Afrika serta singa-singanya, di dalam roh, kalo bukan secara badani, adalah gagasan sentral mereka tentang budaya Afrika.

Identifikasi Afrosentris penting lainnya adalah warna merah, emas, dan hijau, dari warna bendera Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan kesetiaan kaum Rasa terhadap Haile Selassie, Ethiopia, dan Afrika dan bukan kepada negara modern manapun di mana mereka kebetulan tinggal. Warna-warna ini seringkali terlihat dalam pakaian dan hiasan-hiasan lainnya. Merah melambangkan darah para martir, hijau melambangkan tetumbuhan Afrika, sementara emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang ditawarkan Afrika. (Sebaliknya, sejumlah pakar Ethiopia menyatakan bahwa warna-warna ini berasal dari pepatah lama yang bilang sabuk sabuk Perawan Maria adalah pelangi, dan warna merah, emas, dan hijau melambangkan semuanya ini.)

Banyak dari pemeluk Rastafari berusaha mempelajari bahasa Amharik, yang mereka anggap sebagai bahasa aslinya, karena inilah bahasa yang dipergunakan Haile Selassie I, dan untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Ethiopia—meskipun pada praktiknya kebanyakan pemeluk Rasta tetap berbahasa Inggris atau bahasa kelahiran mereka. Ada pula lagu-lagu reggae yang ditulis dalam bahasa Amharik.

Kenapa Reggae dan Rasta Diidentikkan Sama Daun Ganja?

Nah, sekarang kita udah nyampe pada inti tulisan ini.

Mengenai hal ini, banyak fersi yang ngejelasin kenapa reggae dan rasta diindentikkan sama daun ganja. Ada yang bilang ini merupakan bentuk identifikasi afrosentris dengan ajarannya: menyatu dengan alam, termasuk juga dengan ganja. Tapi pendapat ini kayaknya kurang pas deh, soalnya bertentangan banget sama ideologi rasta. Trus, gimana dong...??? Sabar dong, sisti...!!!

Rastafari nganjurin pengikutnya buat ngejauhin materialisme dan hidup alami. Mereka juga di larang memotong bagian tubuhnya (maka dari itu rambut mereka di biarkan menggimbal), dan memakan daging. Asap mariyuana juga di anjurkan di pakai buat meditasi para rastafari. Inget...!!! Ganja hanya dipake buat ritual keagamaan saja, bukan buat seneng-senengan doang.

Lah, trus, kenapa reggae dan rasta identik sama ganja?

Kayak yang udah kita bahas di depan. Om Bob adalah legenda reggae. Dia juga seorang rastafarian. Sedangkan menurut sebagian pendapat, dalam ajaran rastafari marijuana dipake sebagai mediasi dalam meditasi.

Dan Reggae nggak selalu identik sama ganja. Anggapan itu sebenernya karena memandang para musisi Reggae yang selalu menggunakan gambar daun ganja sebagai Cover di Album mereka. Apalagi salah seorang musisi Reggae Peter Tosh tiap kali manggung selalu menghisap daun ganja dan dia pernah bikin lagu tentang pelegalan ganja yang berjudul Legalize It, yang mengakibatkan dia ditangkap polisi Jamaika. Tuh, di Jamaika aja (tempat lahirnya musik reggae dan gerakan rastafari) dilarang.

Demikianlah ceramah kali ini. Kurang dan lebihnya mohon maaf... he... he... he... Kayak pak ustadz aja.

http://rastaman-aswajais.blogspot.com

0 komentar: